Headlines News :
Home » , , » Para Relawan Galau [1]

Para Relawan Galau [1]

Written By Raja Pasee on Senin, 22 Juli 2013 | 13.27



acehtraffic.com-Gempa gayo membuat semua orang berempati dan ingin melihat serta menolong. Sebut saja namanya Benseh  (36) dan tiga sahabatnya yang lain sebut saja bernama Mat Usuf,  Mae dan Maun. Dalam kelompok itu Benseh adalah yang tertua secara umur.
 
Malam itu, mulut Benseh terlihat terbuka tutup, matanya melihat kesana kemari, sembari menjelaskan tentang apa yang dialami pengungsi Gempa. Benseh sangat berambisi untuk melihat dan untuk berbuat sesuatu, namun yang membuatnya sengkak biaya untuk menuju kesana hanya sedikit tersedia. Tentunya itu menjadi sumber kebingungan. 

Namun tekat Benseh untuk mencapai lokasi bencana sudah bulat dengan modal cekak, ia mempresentasikan kondisi pengungsi yang sedang cekak di hajar gempa, Benseh terlupakan cekaknya yang sudah menuju sesak jika memikirkan bagaiamana ia mewujudkan ke tanah Gayo. 

Setelah diskusi panjang, akhirnya Jumat 19 Juli 2013 sebuah mobil butut bergerak pelan menuju dataran tinggi Gayo, Mat Usuf, Serta Mae dan Maun ikut didalamnya. Jalanan sedang dalam perbaikan dikawasan Cot Ijo Bireuen dilumat pelan, beberapa tikungan di kawasan Juli Bireuen terlihat sudah agak sepi karena aktivitas warga sudah terhenti akibat malam sudah larut. 

Lalu lintas mobil yang turun dan naik ke dataran tinggi Gayo terlihat dijalan, ada  truk pengangkut sembako, banyak mobil pengangkut kelapa untuk dijajakan di pasar Takengon esok. . 

Mulai dari kilo meter 17 semilir angin membuat tubuh mulai terasa dingin, tanjakan kecil terlewatkan,kedepannya sejumlah perbukitan segera berhadapan, para sopir harus hati-hati bila berpapasan dengan truk besar baik yang sedang mendaki atau sedang turun. Karena sejumlah tempat harus menurunkan kecepatan laju kenderaaan, bukan tidak mungkin didaerah tersebut lonsor dan tanahnya sudah retak. 

Jelang pagi mobil yang membawa 4 para penolong itu sampai di sekitar lokasi. Karena masih malam, mereka memilih menghabiskan waktu di kawasan Lampahan, baru paginya dengan tumpukan bantuan menyisir lokasi para pengungsi. 

Benseh telah membina koneksi dengan beberapa pihak untuk suatu tindakan menolong para pengungsi gempa yang sedang membutuhkan pertolongan. Beberapa laporan kecil dilaporkan dengan harapan sang jaringan segera mendapat sang Funder yang dapat mendukung kegiatan beerdasarkan  assessment tersebut. 

Matahari menyingsing dari balik perbukitan, pertanda pagi sudah tiba. Empat sekawan melanjutkan perjalanan ke lokasi, mobil butut yang membawa mereka sudah mengeluarkan asap putih lewat knalpot, pertanda mesin sudah dinyalakan. Pemanasan sedang terjadi dalamnya. 

Setelah semua naik, mereka pun berangkat, tak seberapa jauh mereka memutar ke salah satu kecamatan yang terkena ekses gempa. Disana terlihat pemukiman penduduk terletak di punggung bukit yang disisi kiri dan kanannya di penuhi kebun kopi dan sesekali terlihat pohon Alfokat. 

Satu tanjakan tinggi dan lonsoran didepan membuat perjalanan empat sang penolong itu sedikit ngeri, apalagi ada sebuah truk sedang turun dari arah berlawanan. Benseh dibalik kemudi kelihatan kelabakan mengendalikan setior dijalan sempit itu. Krok..krokkk mobil terperosok sedikit ke paret jalan. Truk terlewatkan. Benseh dengan tenang melumat satu tanjakan lagi yang juga lumayam menantang. 

Mulaiah terlihat rumah rumah telah hancur, sejumlah tenda berjejer, sekilas terlihat ini seperti pemukiman  penduduk belum jadi, didalam permainan rumah-rumahan anak-anak. Warga terlihat memandangi reruntuhan itu, dan ada juga yang sedang mengumpulkan kayu sisa, dan mengambil barang dibalik reruntuhan untuk kumpulkan dengan rapi. 

Setelah sekitar 30 menit perjalanan sampailah di tempat yang di tuju, Benseh berdiskusi dengan empat sahabat yang lain, tentang kemana bantuan tersebut didistribusikan. Dengan pertanyaan dan jawabanntya sendiri akhirnya Benseh memutuskan untuk memberikan bantuan tersebut ke salah satu posko desa. 

Benseh dan kawan-kawan bercerita di posko itu, tidak berlama-lama disana, mereka pun pamit  kembali. Tentunya Benseh dan empat kawannya mendapatkan sedikit informasi dari berbagai keterangan warga dan para kepala desa itu. 

Dan itu menjadi catatan penting bagi Benseh, bukan tidak mungkin dari informasi itulah, dapat direncanakan pertolongan, bila,kemudian rencana tersebut disambut oleh sejumlah penolong gempa yang memiliki dana yang cukup. 

Baru sebentar disana sebuah informasi lain masuk ke Benseh, pikiran Benseh sedikit galau, apa yang baik ? ini atau itu. Namun setelah dianalisa, keputusan itu harus dikerjakan. Dan keyakinan itu juga didukung dengan masih perlunya sejumlah bantuan guna menolong para pengungsi disana.

Dalam posisi itu seakan Benseh bertenaga baja, ia segera merespon informasi tersebut, dengan kotak-katik perjalanan, seakan bagani dan bagatu akan secepat kilat terjadi.

Kemudian dengan mobil butut mereka berlayar dalam kegelapan malam untuk tujuan 200 kilo meter. Benseh, Mat Usuf, serta Mae dan Maun sudah sangat lelah, namun tetap dipaksakan, akhirnya jelang pagi mobil itu mendarat di kota tujuan.Mata Benseh terlihat ngantuk, begitu juga dengan Mat Usuf, Maun dan Maee juga sama. 

Terserah pertimbangan atau alasan serta ada analisa lain, memang kepulangan itu– Benseh sang relawan, - terlihat sangat Galau | TIM acehtraffic.com |
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Acehtraffic Template | Baharsj
Copyright © 2013. Aceh Zone - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Baharsj
Proudly powered by Blogger