Headlines News :
Home » , » Zaratex NV Kelabui Warga, Mahasiswa Protes Diwarning dan Terancam

Zaratex NV Kelabui Warga, Mahasiswa Protes Diwarning dan Terancam

Written By Unknown on Rabu, 06 Juni 2012 | 06.34



Lhokseumawe | Acehtraffic.com – Dampak survey seismic 2D untuk mendeteksi keberadaan dan jumlah kandungan cadangan minyak dan gas [migas] yang dilakukan oleh Zaratex NV di Blok Sawang – Matang Lada terus menuai protes akibat kerugian warga tidak ada kejelasan ganti rugi.

Dalam beberapa kasus yang terjadi di Blok tersebut, hingga kini tercatat 18 unit rumah permanen dan semi permanen retak akibat recording seismic 2D [perekaman data, peledakan dynamid -red].

Ibrahim warga Meucat Kecamatan Nisam, Aceh Utara, salah satu korban dibantu oleh staf ahli DPRK Aceh Utara untuk mempertanyakan hal tersebut kepada Eri Wahab, Humas Zaratex NV hingga perusahaan lansung memberi ganti rugi sebesar 3 juta rupiah. Namun korban menolak karena dampak yang ditimbulkan survey migas itu tidak sebanding dengan ganti rugi hanya 3 juta rupiah.

Sementara 17 unit rumah lainnya belum ada kejelasan ganti rugi, bahkan pihak Zaratex mengatakan belum menerima laporan soal rumah retak akibat seismic. 

Disamping itu, Razali [38] warga Meunasah Alue Kecamatan Nisam, Aceh Utara juga di rugikan, seratusan pepaya madu miliknya porak-poranda akibat guncangan ledakan dynamid dikebunnya, Jum’at 25 Mei 2012, lalu.

Kebun pepaya madu milik calon Tgk Imum itu, Sabtu, 26 Mei 2012, siang didatangi warga dan menahan delapan unit kabel recording sebagai jaminan agar ganti rugi segera diberikan.

Namun, kabel tersebut diambil kembali oleh pihak perusahaan setelah meyakinkan pemilik kebun akan segera memberikan ganti rugi, hari Minggu, 27 Mei 2012 mereka berjanji akan membuat surat pernyataan bahwa bertanggung jawab atas kerusakan tanaman miliknya.

Disamping itu, perusahaan juga akan menurunkan tim dari Dinas hari Senin, 28 Mei 2012, untuk menaksir kerugian Razali. Waktu terus diulur-ulur hingga membuat Razali makin resah seperti orang kehilangan anak 1 tahun.

Pernah kejadian setelah subuh, Minggu 27 Mei 2012, sekira pukul 5.45 Wib Razali mendatangi Reporter Acehtraffic.com yang kebetulan menginap di Kampung tersebut hanya untuk menanyakan “kiban cara nyoe, kira-kira pue ek jibayeu bak putek lon? [bagaimana ini, kira-kira apakah mereka mau membayar kerusakan pepaya saya]”, tanya Razali yang mengakui khawatir karena modal sebesar 20 juta rupiah yang ia gunakan merupakan pinjaman orang.

Minggu Razali menunggu surat pernyataan Zaratex yang tak kunjung sampai, Senin Bapak beranak satu itu kembali dibuat harus menunggu tim Dinas yang diturunkan perusahaan juga tak datang-datang hingga matahari terbenam.

Tim penaksir harga kerusakan tanaman akibat survey itu baru turun kelokasi hari Kamis, 31 mei 2012, 86 pohon pepaya yang tumbang telah dihitung oleh tim Humas lapangan satu hari setelah kejadian, sayangnya Dinas Pertanian yang disewa oleh Zaratex NV justru mengatakan kerusakan tanaman disebabkan oleh faktor alam. 

Hasil pantauan Tim dinas menyimpulkan perusahaan hanya mau membayar pepaya yang masuk dalam line rintisan seismic dan harganya sesuai dengan surat keputusan Gubernur nomor 548/444/2010 tentang penetapan nilai kompensasi atas pemakaian tanah, tanaman kehutanan, perkebunan, pertanian dan perikanan, serta benda lain yang ada di atas tanah dalam rangka survey seismic.

Mendengar keputusan tim dinas dan baru dilakukan ganti rugi setelah 15 belas hari selesai tahapan survey seismic [topo, rintis, drilling, dan recording,-red], spontas saja Tgk Li [sebutan untuk Razali, pemilik tanaman,-red] tidak menerima tindakan perusahaan yang telah mengkibuli dirinya dan mengancam akan mengugat Zaratex NV.

Saat turun lokasi tumbangnya pepaya warga, tim Dinas Pertanian Aceh Utara dikomandoi oleh Baktiar didampingi pihak Zaratex NV dan Intel Polres Lhokseumawe yang bekerja untuk perusahaan tersebut.

Menurut Bustami, mahasiswa yang tergabung dalam Aceh Liberation Front [ALF Pasee] fokus mengadvokasi kasus tersebut mengatakan saat turun kelokasi dia ditanyai oleh Intel Polres Lhokseumawe dengan suara keras seperti membentak “Pue urosan ikah kaikot jampu masalah tanaman Tgk Li, peujeut yakin that kah nyoe rusak sabab boom,[apa urusan kamu ikut campur masalah tanaman Tgk Li, kenapa kamu sangat yakin ini rusak akibat boom?], kata Bustami meniru ucapan Intel itu.

Keterlibatan kepolisian didalam perusahaan migas itu sebenarnya hanya sebagai pengamanan, namun implementasi dilapangan justru polisi bertindak sebagai penyelesai masalah disetiap kasus yang terjadi dilapangan, atau semacam eksekutor menakut-nakuti masyarakat yang protes. Seperti yang terjadi dikantor kecamatan Sawang, Senin 28 Mei 2012, lalu mengintrogasi seorang mahasiswa yang menyebar tulisan hasil investigasinya di media dan blogger.

Rapat demi rapat dilakukan oleh perusahaan yang dibantu oleh Muspika Sawang dan Nisam, namun bukan untuk menjawab persoalan atas kerugian masyarakat, melainkan untuk memuluskan aktivitas perusahaan migas tersebut.

Akibat persoalan dengan warga tidak dituntaskan, di Gampong [Desa,-red] Meunasah Alue Kecamatan Nisam, Aceh Utara, Senin 4 Juni 2012, pukul 16.30 Wib, tiga puluhan pemuda Gampong tersebut yang sudah siap-siap sejak dua hari sebelumnya menahan satu truk kabel recording.

Sebanyak 212 set kabel perekaman tersebut ditahan sebagai bentuk jaminan agar kerugian warga segera diselesaikan. Sekira pukul 1.00 Wib dini hari, Kanit Reskrim Polsek Nisam, Aceh Utara yang didampingi oleh Kamaruzzman dari Koramil Nisam Kabupaten itu meminta agar kabel tersebut diserahkan kepada pihaknya.

Menurut pengakuan pemuda Gampong Meunasah Alue Kecamatan Nisam kepada Acehtraffic.com mengatakan aparat kemanan itu meminta warga agar menyerahkan kabel kepada Polsek, kalau tidak mereka lepas tangan bila terjadi sesuatu, “kami tidak bertanggung jawab kalau datang orang bersenjata terjadi pemberondongan, dan mereka mengambil beberapa set kabel recording siapa yang bertanggung jawab” ungkap Pemuda Gampong meniru ucapan alat Negara itu.

Sebelumnya, tiga puluhan pemuda ini juga telah diberi pil pahit oleh Syamsuddin Humas Gampong yang bekerja untuk Zaratex, dari kalangan Komite Peralihan Aceh [KPA] dia megatakan “awakkah beusiap siap trok brimob dua boh reo ijak tangani masalah awakkah theun kabel nyan [kalian berani menahan kabel harus siap ketika datang 2 reo pasukan brimob”]. Namun gertakan eks kombatan GAM tersebut tidak membuat ciut nyali sang ketua Pemuda demi tuntutan mereka agar masalah dengan masyarakat diselesaikan.

Akibat protes dan mengkritisi perusahaan migas Zaratex NV sepertinya bakal berbuntut panjang, masyarakat bisa terancam dan sepertinya bakal jatuh korban jiwa, “kana ancaman poh meupoh gara-gara nyan [sudah ada ancaman bunuh membunuh gara gara itu]” ungkap seorang warga Nisam.

Selasa 5 juni 2012 sore, disalah satu warung kopi Nisam, Kanit Reskrim Polsek Kecamatan Nisam, Aceh Utara saat sedang duduk dengan warga ditelpon seseorang, dalam pembicaraan itu didengar oleh teman ngobrol sang Kanit Reskrim itu, si penelpon meminta agar mahasiswa yang mempelopori masyarakat diberi pil pahit, pembicaraan yang didengar lansung oleh ayah mahasiswa yang jadi sasaran pil pahit tersebut .

Setelah telpon seluler Kanit Reskrim tersebut menutup pembicaraannya, lansung saja ditanya oleh ayah mahasiswa itu “yang telpon atnyoe soe? [yang telpon tadi siapa]” tanya ..., “Si SY........” jawab kanit Reskrim Nisam.

Terus bapak itu mengatakan “si Bustami yang kaneuk serang nyan aneuk lon” ungkapnya, lansung dijawab oleh penegak hukum itu “han ek tapeureumeun si gam nyan awak pungo” ulang Bapak Bustami.

Ayah pemuda tersebut mengatakan sekilas soal siapa dan bagaimana perilaku SY........ tersebut yang tidak disukai oleh masyarakat kampung. Disamping itu, diwarung kopi lain juga membicarakan masalah SY........ yang bernazar agar mahasiswa tersebut [Bustami] dan salah seorang temannya mahasiswa asal kecamatan Sawang bermasalah dengannya. “Jimeukaoe 5 ribee beumeupoek ngen jih” ungkap seorang warga. 

Bahkan karena kritikan diberbagai media mahasiswa yang tergabung dalam ALF Pase diancam agar datang menghadap Rakjab Ketua KPA Nisam Aceh Utara.

SY........ adalah warga Gampong Meunasah Alue, Nisam, eks kombatan GAM yang tergabung dalam Komite Peralihan Aceh [KPA], bekerja sebagai Humas Zaratex NV di areal seismic kecamatan Nisam. 

Meski demikian, hingga saat ini Rabu, 6 Juni 2012 akibat survey seismic migas Zaratex NV yang ditimbulkan baik permasalah kecil maupun besar merugikan masyarakat belum diselesaikan, masyarakat berharap wakil rakyat untuk turun tangan membantunya. 

Humas Zaratex NV, Eri Wahab yang dimintai keterangannya soal kerugian warga tersebut setelah dikirim pesan singkat tidak menjawab panggilan wartawan. | AT | YD | RI | IS |
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Acehtraffic Template | Baharsj
Copyright © 2013. Aceh Zone - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Baharsj
Proudly powered by Blogger