Headlines News :
Home » » Inilah Proses Belajar Imam Khomeini ra

Inilah Proses Belajar Imam Khomeini ra

Written By Raja Pasee on Kamis, 13 Juni 2013 | 23.21



Acehtraffic.com -  Imam Khomeini masuk ke hauzah Arak pada usia 21 tahun. Pada masa itu Arak merupakan salah satu pusat keilmuan Iran dan Ayatullah Syeikh Abdolkareem Hairi Yazdi ra pendiri hauzah ilmiah Qom mengajar di Arak.

Almarhum Ayatullah Hairi datang ke Qom untuk berziarah dan di Qom ada sejumlah ulama menemuinya dan meminta agar beliau menetap di Qom. Otomatis ketika beliau menetap di Qom, para santri dan murid-muridnya termasuk Imam Khomeini yang tadinya tinggal di Arak akhirnya pindah ke Qom. Di Qom, Imam Khomeini banyak belajar pendidikan dasar kepada Ayatullah Hairi. Pada masa itu, selain Imam Khomeini belajar fikih, ushul fikih, filsafat dan akhlak, beliau juga sibuk mengajar.

Imam Khomeini belajar filsafat kepada Ayatullah Rafei dan mengatakan bahwa beliau belajar Manzhumah selama empat tahun. Setelah pelajaran filsafat beliau tamat yakni Syarh Manzhumah, Imam Khomeini mengikuti pelajaran Asfar kepada Agha Sayid Abolhassan Qazvini. Terkait masalah ini Imam Khomeini ra berkata:

"Begitu saya mengikuti pelajaran beliau sebanyak tiga sampai empat kali pertemuan, saya sudah memahaminya dan tidak perlu lagi belajar Asfar."

Imam Khomeini mendiskusikan sebagian besar Asfar dengan almarhum Agha Mirza Khalil Kamareh-i. Di samping itu, beliau juga mengajar Manzhumah dan banyak murid dan santri yang hadir mengikuti pelajaran Manzhumah antara lain Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari.

Imam Khomeini mengajar pelajaran akhlak di madrasah Feizieh dengan dihadiri oleh banyak santri dan masyarakat umum. Beliau menjelaskan pelajaran akhlak sedemikian rupa sehingga bisa dipahami oleh masyarakat umum. Berdasarkan penuturan sebagian yang hadir, pelajaran Imam Khomeini sangat menyentuh perasaan orang-orang yang hadir di sana sehingga terkadang sampai muncul suara tangisan di masjid. Khususnya ketika Imam Khomeini menjelaskan masalah-masalah akhirat dan Hari Kiamat.

Suatu hari Imam Khomeini menemui almarhum Agha Ilahi salah seorang arif dan pesalik Qazvin di Qom. Dalam pertemuan itu hadir juga almarhum Agha Shah Abadi Bozourgh seorang arif terhormat dan guru Imam Khomeini.

Imam Khomeini mengatakan:

"Saya menemui beliau di madrasah Feizieh dan saya menanyakan sebuah masalah irfan. Beliau memulai ucapannya. Dari situ saya memahami bahwa beliau adalah ahli amal. Saya bilang, saya mau belajar. Beliau tidak mau menerima. Saya memaksa dan akhirnya beliau menerima karena berpikir bahwa saya mau belajar filsafat. Ketika beliau sudah menerima, saya bilang bahwa saya telah belajar filsafat dan saya datang kepada Anda bukan untuk belajar filsafat. Saya ingin belajar Syarh Fushush. Beliau menolak, tapi karena saya memaksa terus, akhirnya beliau mau menerima."

Kepada Imam Khomeini saya bertanya, "Anda bersama berapa orang?"

Imam Khomeini berkata:

"Terkadang kalau jumlah kami banyak, sampai tiga orang. Tapi seringnya saya sendirian belajar Irfan kepada beliau."

Saya bertanya, "Apakah Anda juga belajar pelajaran lainnya juga kepada Agha Shah Abadi?"

Imam Khomeini menjawab:

"Di hari-hari libur, hari Kamis dan Jumat saya belajar Mafatihul Ghaib kepada beliau. Pada saat saya belajar Syarh Fushush dan Mafatih al-Ghaib, saat itu juga saya memberikan catatan pinggir untuk Mafatih al-Ghaib."
 
Saya bertanya, "Pelajaran apalagi yang Anda pelajari dari Agha Shah Abadi?"

Imam Khomeini menjawab:

"Buku Manazil as-Saairin."

Saya bertanya, "Berapa orang bersama Anda?"

Imam Khomeini menjawab:

"Saya sendirian, dan terkadang ada satu atau dua orang yang datang juga, tapi setelah beberapa kali pertemuan mereka pergi."

Saya bertanya, "Beliau bagaimana orangnya?"

Imam Khomeini menjawab:

"Kepada Agha Shah Abadi saya berkata, poin-poin yang Anda sampaikan tidak ada dalam buku. Anda menyampaikan ini dari mana? Agha Shah Abadi berkata, "Apa yang dikatakan itu berarti dari aku sendiri. Beliau sangat berjasa kepada saya. Beliau benar-benar menguasai, baik Filsafat maupun Irfan."

Saya bertanya, "Berapa tahun Anda belajar Irfan kepada beliau?"

Imam Khomeini menjawab:

"Tepatnya saya tidak ingat, tapi kira-kira lima sampai enam tahun. Syarh Fushush yang diajarkan oleh Agha Shah Abadi beda dengan Syarh Fushush Qaishari. Beliau sendiri punya pandangan yang sangat luas."

Ini adalah poin-poin yang disampaikan oleh Imam Khomeini sendiri dan saya mencatatnya sesuai dengan apa yang disampaikannya.

Agha Morteza Hairi Yazdi, putra terhormat almarhum Ayatullah Syeikh Abdolkareem Hairi Yazdi ra menyampaikan poin penting kepada saya. Menurut penuturan beliau, "Wafatnya Imam Khomeini ra membuat beberapa ilmu mengalami kekosongan. Salah satunya adalah Irfan. Karena saat ini tidak ada orang seperti Imam Khomeini yang mempelajari ilmu-ilmu ini secara mendalam.
| AT | M | Irib |
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Acehtraffic Template | Baharsj
Copyright © 2013. Aceh Zone - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Baharsj
Proudly powered by Blogger