Headlines News :
    Hosting Gratis
    Tampilkan postingan dengan label Tengah Tenggara. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Tengah Tenggara. Tampilkan semua postingan

    Alumni Cipinang: ALA Siap Merdeka, LSM Kobra Berang, Mahasiswa: Biarkan Saja




    Aceh Utara | acehtraffic.com – Pernyataan Ketua Dewan Pertimbangan Pemekaran Provinsi (KP3ALA) Pusat, Armen Desky tentang prediksi pemekaran Provinsi Aceh Lauser Antara (ALA) bakal terwujut sebelum Pemilu 2014 nanti, mengecohkan sebagian orang hingga angkat bicara.

    Prediksi yang disampaikan Alumni Cipinang itu diutarakan dalam acara buka puasa bersama Pemuda Pancasila (PP) di Banda Aceh, Minggu, 21 Juli 2013, lalu.

    Dia mengatakan surat persetujuan untuk pemekaran ALA sudah berada di meja sekretaris negara. "Kita do'akan saja, kalau tidak halangan apapun pemekaran provinsi ALA bakal terwujud," katanya seperti yang dilansir Rakyat Aceh.

    Menurut mantan Bupati Aceh Tenggara yang terjerat kasus korupsi dana APBD tahun 2004-2006 senilai Rp 26,9 miliar itu, memperkirakan Presiden akan menandatangani Provinsi ALA terlebih dahulu, “sebab dilihat dari segala persyaratan justru daerah tengah dan tenggara ini yang sudah siap” Kata dia.

    Sedangkan untuk Provinsi ABAS, katanya sudah juga menyiapkan segala administrasi dan syarat kelengkapan lain. Namun masih ada yang harus dipersiapkan kembali dan butuh waktu dalam beberapa langkah lagi.

    Namun, kata Armen, soal ABAS tetap kita dukung juga, sehingga yang namanya sama-sama berjuang tentu harus saling memberikan dorongan, sehingga bisa terwujud.

    “Kalau nantinya, ALA lebih duluan, maka ABAS akan kita ajak untuk bergabung saja. Yang penting mekar dulu. Soal penentuan ibukota provinsi, diharapkan tim pusat nantinya yang akan menentukan di kabupaten mana yang cocok,” jelasnya lagi.
    Menurut Armen, sudah cocok di Aceh ini punya tiga Provinsi dengan satu Wali Nanggroe, ini dimaksudkan salah satunya untuk menarik agar dana pusat bisa lebih banyak diberikan ke daerah ujung Sumatera ini.

    Kemudian, dengan pemekaran dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Aceh. Dimana, sekarang ini, justru angka pengangguran masih banyak karena ketiadaan produksi apapun di 23 kabupaten/kota.

    Kemudian, dengan pemekaran ini, tambah Armen, maka nantinya bisa saling bergantian sehingga semua masyarakat Aceh punya peluang menjadi Wali Nanggroe.

    Namun pernyataan tersebut ditolak mentah tanpa ditimbang oleh Sekjen Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komite Bersama Rakyat Aceh (Kobra), Amri Usman. Rabu 24 Juli 2013.

    Menurutnya pernyataan tersebut merupakan bagian dari misi memecah-belahkan masyarakat Aceh, dan tentunya hal tersebut merupakan provokasi murahan dan menyesatkan.

    "Itu adalah provokasi!, diminta jangan terus mencari perbedaan, cobalah cari kesamaan untuk membangun Aceh kedepan yang lebih baik, bukan musti terpecah belah," harap Sekjen Kobra, Amri Usman.

    Menurut dia, upaya pemekaran Provinsi Aceh untuk menjadi beberapa Provinsi bukanlah suatu ide yang patut didukung, karena hal itu akan memecah belah keutuhan wilayah Aceh, dan juga akan melahirkan raja-raja kecil yang pada akhirnya akan menjadi beban pada keuangan negara.

    "Keutuhan wilayah Aceh sudah final dan tidak boleh ditawar-menawarkan lagi," Kata Kobra.

    Sementara mahasiswa Unimal justru mendukung hal yang disuarakan oleh kawan-kawan Gayo Merdeka. “silahkan saja pisah dengan Aceh bila mersa didiskriminasi atau dimarginalkan, merasa terjajah akibat tidak adil, semua orang punya hak untuk merdeka sama halnya dengan Aceh untuk merdeka begitu juga dengan ALA ABAS” Kata Bustami Ibrahim. Minggu, 28 Juli 2013.

    Mahasiswa sosialogi Universitas Malikussaleh itu meminta semua pihak untuk tidak melarang ALA ABAS untuk merdeka. Menurutnya bila ada orang yang melarang artinya mereka harus mampu memberikan yang dirasakan oleh orang ALA ABAS tidak adil.

    “Pemerintah Aceh saja yang memiliki kekuasaan tidak merespon atau merasa kehilangan, bila pun itu dilarang kan sudah dicari solusinya, minimal memanggil tokoh-tokoh itu diberikan sedikit ladang basah biar diam, termasuk alumni Cipinang itu” Kata Koordinator Gapman itu sambil tertawa. | AT | IS | BBS |

    Lsm Local Bireuen Terus Support Pengungsi Gempa


    Bireuen | acehtraffic.com- Team LSM Lokal Bireuen yaitu YPAP [Yayasan Permata Atjeh Peduli], LKSMaBi (Lembaga Kerja Sosial Mahasiswa Bireuen), Gasak, Rata, Bima dan LPSM-Unimus masih terus melakukan support untuk korban gempa untuk Takengon dan Bener Meriah.

    Fadli Djailani kepada acehtraffic.com mengatakan kegiatan tersebut dari awal telah digalang, namun karena pengungsi masih butuh maka lsm local dibireun terus melakukan support guna bisa mengurangi beban hidup para pengungsi.

    Khusus Team YPAP bersama LKSMaBi juga melakukan  rapid assessment, untuk mengetahui kebutuhan rill para pengunggsi di Bener Meriah dan Takengon, dengan melihat semua keadaan baik bantuan yang datang bahan pokok makanan, selimut, tenda, medis, sikap relawan serta hal-hal lainnya.

    ,”Ini dilakukan supaya bantuan-bantuan yang diberikan supaya semua memenuhi Standard Minimum Bantuan Kemanusian,”Ujar Fadli

    Fadhli Djailani Manager Program Yayasan Permata Atjeh Peduli juga menyebutkan sedang mengusahakan adanya klinik mobile untuk para pengungsi di Takengon dan Bener Meriah supaya mereka mudah mengakses layanan kesehatan, terutama untuk manula dan anak-anak serta ibu hamil, yang akan bergilir kesetiap desa yang jauh dari pusat pengungsian. Mudah-mudahan ini terwujud setelah lebaran.

    Team LKSMaBi (Lembaga Kerja Sosial Mahasiswa Bireuen) sedang menyiapkan kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Methodis Bireuen untuk mengimplementasikan Child Protection.

    Program yaitu program perlindungan anak yang termasuk didalamnya memerhatikan kejiwaan anak, memberikan pendidikan sambil bermain, memberikan bantuan media belajar dan juga bantuan persiapan kesekolah, seperti baju, sepatu dan tas dalam menyambut sekolah setelah puasa nanti.

    Sementara Mursal ketua LKSMaBi, juga mengungkapkan mendekati Meugang Lebaran pihak LKSMaBi bersama Methodis Bireuen akan berusaha membawa Lembu untuk disembelih di tempat pengungsi supaya para pengungsi bisa ber-Meugang bersama keluarga seperti hari-hari lainnya, yang tidak hanya dengan mie Instan | AT| RD|

    Indikasi Penyimpangan Dana Tanggap Darurat Korban Gempa Gayo


    Gayo | acehtraffic.com - Indikasi adanya permainan dalam penyaluran dan penyedian kebutuhan logistik untuk korban gempa di Gayo, Aceh Tengah dan Bener Meriah, perlahan-lahan mulai terkuak. Pemda Aceh yang telah mempaketkan nilai proyek untuk masa tanggap darurat, ternyata berbeda statemen gubernur dengan keadaan lapangan. Kamis, 25 Juli 2013. 

    Gubernur Zaini Abdullah sangat sering menyampaikan, bahwa penyaluran bantuan untuk tanggap darurat ini harus transparan dan benar- benar disalurkan kepada yang berhak. Namun di lapangan kenyataannya, tidak semuanya harapan gubernur itu mampu dilaksanakan. 

    Penelusuran adanya dugaan permainan itu, hingga Selasa 23 Juli 2013 menemukan beberapa petunjuk. Penyedian logistik dan sumbangan pihak ketiga untuk korban gempa, selain datanya tidak transparan, juga berpeluang besar adanya manipulasi. 

    Dana tanggap darurat itu seharusnya dalam bentuk dana siap pakai (DSP), gubernur justru meng-SK-kan dalam bentuk dana tak terduga. Dana senilai Rp 64 milyar lebih itu, sudah dipaketkan menjadi enam item poryek, yang penggunaan jelas. Bila ada yang tidak dapat dikerjakan, harus direvisi terlebih dahulu, baru dapat dipergunakan. 

    Walau keadaan lapangan ada hal yang mendesak, dana yang tak terpakai itu tidak boleh dipergunakan, sebelum adanya perubahan anggaran. Indikasi adanya permainan itu, sangat menonjol di paket proyek Dinas Sosial Aceh Rp 21,380 milyar lebih. Paket yang ditetapkan di intansi ini, banyak yang masih belum dilaksanakan. 
    Selain itu ada yang tumpang tindih dengan bantuan pihak ketiga, sehingga tidak jelas apakah bahan logistik ini dibeli dari dana tanggap darurat atau sumbangan pihak lain. Pihak Dinas Sosial dalam menyiapkan kebutuhan tanggap darurat di masa panik, juga menyediakan logistik yang bukan sangat dibutuhkan oleh korban dalam masa panik. 

    Seperti kurma, sirup, mentega, tepung, agar-agar. Untuk sirup mencapai Rp 510 juta. Kurma Rp 50 juta, tepung terigu Rp 142 juta, agar-agar Rp 300 juta dan mentega Rp 810 juta. Untuk kurma 2 ton, anggaran Rp 50 juta itu juga ahirnya tumpang tindih dengan bantuan pemerintah Arab Saudi yang mengirimkan kurma 10 ton. 

    Namun walau pemerintah Saudi mengirimkan kurma 10 ton, ditambah dua ton disediakan Dinas Sosial, angka pasti kurma itu tidak jelas, berapa ton yang sudah disampaikan ke posko. Khusus untuk agar-agar yang nilainya mencapai Rp 300 juta sampai dengan hari ke 22 musibah gempa, sudah mulai masuk ke Posko. Bantuan kemanusian itu tidak jelas. 

    Selain adanya kejanggalan dalam pengadaan losgistik, nilai satuan harga yang ditetapkan Dinas Sosial Aceh juga berbeda dari harga pasaran (HET). Justru yang dibeli Dinas Sosial harganya lebih tinggi. Demikian dengan jaket anak-anak yang diplotkan mencapai 10.000 eks, nilai mencapai Rp 750 juta. 

    Tetapi barang yang dipaketkan Dinas Sosial ini juga belum diketahui dimana barangnya.  Syahbuddin, Dinas Sosial Aceh yang menangani logistik gempa, ketika dikonfirmasi  enggan memberikan komentar. Demikian dengan bantuan NGO, LSM dan para pihak peduli terhadap gempa Gayo, semua bantuan itu dikendalikan pihak provinsi. 

    Sampai saat  ini keterangan lebih rinci tentang logistic dan bantuan itu, masih sulit didapat. Belum Jelas Dana tanggap darurat yang dimasukkan ke rekening bendahara baru pada tanggal 10 Juli 2013, membawa dampak di lapangan. 

    Bahkan sampai saat sekarang ini belum seluruhnya disalurkan sesuai pos anggaran. Dampaknya sebagian kegiatan itu harus mencari dana sendiri demi suksesnya pekerjaan menangani masa transisi pemulihan. 

    Dinas Bina Marga misalnya, mengakui dengan dana Rp 721 juta yang dianggarkan, tidak mampu dikelola pihaknya untuk membersihkan puing-puing kehancuran akibat gempa. 

    Selain dananya belum seluruhnya dicairkan, dana tersebut sangat minim untuk membersihkan fasiltas yang hancur. “Kita perhitungkan dengan dana yang minim, pekerjaan pembersihan ini,membutuhkan waktu tiga bulan,” sebut staf Bina Marga, dalam pertemuan Pers menyampaikan laporannya kepada kepala BPBA. 

    Sementara itu di lapangan, pantauan Waspada, pihak PU Aceh Tengah dengan mengandalkan biaya “pinjam meminjam”, terus melakukan upaya pembersihan gedung sarana  yang hancur. 

    “Tugas ini harus kita jalankan, dan kita tetap berkoordinasi dengan pihak Bina Marga,” sebut Akmal UPTD workshop PU Aceh Tengah yang tetap di lapangan mengerahkan anggota membersihkan dan merubuhkan bangunan. AT | I | Waspada | LG |

    Baca juga:

    Bah “Lenyap” Jadilah Mahab-Bah


    acehtraffic.com | Bah, nama yang memiliki nilai Sejarah. Bah, Entah apa artinya. Bah, Telah diterjang gempa, Warga Bah pun jera. | AT | RD |




    Korban Gempa Gayo Setuju Direlokasi, Kampung Bah Pun Ubah Nama Jadi Mahabbah


    Takengon | acehtraffic.com – Kampung Bah Kecamatan Ketol merupakan salah satu kampung yang mengalami kerusakan parah akibat gempa yang melanda Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah pada 2 Juli 2013 lalu.
    Hampir seluruh rumah di kampung tersebut hancur. Selain itu sebanyak lima orang meninggal dunia, dan 127 dari 146 Kepala Keluarganya mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
    Pascagempa itu, masyakarat kemudian mengusulkan agar kampungnya direlokasi. “Melihat dampak yang dirasakan akibat gempa, masyarakat setuju direlokasi,” kata Kepala Kampung Bah, Selamatsyah, Selasa 23 Juli 2013 dihadapan Bupati Aceh Tengah, Ir. Nasaruddin, MM.
    Bupati mengungjungi kampung Bah didampingi Dandim 0106 Aceh Tengah, Letkol Inf. Lalu Habiburrahim, Kapolres Aceh Tengah, AKBP Artanto, Sik, Kajari Takengon, Roch Adi Wibowo, SH, MH, dan Ketua MPU Aceh Tengah, Drs. Tgk. Ali Djadun.
    Kedatangan Bupati beserta beberapa unsur pimpinan daerah setempat untuk melihat kondisi terakhir masyarakat serta menyerap aspirasi usulan warga untuk relokasi permukiman ke tempat yang baru.
    “Sebenarnya apa arti Bah?” tanya Ketua MPU Ali Djadun. Beberapa warga lalu memberi jawaban baragam, ada yang mengatakan luapan air besar dan lainnya.
    “Bagaimana kalau diganti dengan Mahabbah, yang artinya saling mencintai,” ujar Ali Djadun dan tampak disepakati oleh warga.
    “Oke, mulai saat ini kita ganti nama Bah dengan Mahabbah, semoga membawa berkah,” kata Bupati Nasaruddin, sekaligus meminta warga menunjukkan tempat relokasi yang disepakati bersama.Setelah itu, warga kemudian membawa rombongan bupati menuju kawasan seluas lima hektar berjarak 1,5 kilometer dari Kampung Bah saat ini. Lokasi tersebut dinilai warga layak untuk di huni, dan setelah melihatnya langsung, bupati serta beberapa unsur pimpinan daerah yang hadir juga setuju dengan lokasi yang diusulkan warga.
    “Kalau sudah sepakat di sini, nanti tolong ditata dari awal,” ujar Kajari Adi Wibowo yang menginginkan penataan yang lebih rapi setelah direlokasi, misalnya letak masjid, jalan dan perumahan.
    “Betul, lokasi mesjid harus ditengah permukiman, biar semua warga dekat bila ingin beribadah,” demikian timpal Nasaruddin.
    Disamping itu masyarakat di Kampung Bah dan Kampung Serempah Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah juga menyatakan persetujuannya untuk direlokasi ketempat yang lebih baik dan aman.

    Menurut hasil kajian ilmiah kedua tempat tersebut tidak layak lagi untuk didiami oleh warga karena berada pada jalur patahan gempa, sehingga sewaktu-waktu dikhawatirkan tanahnya bisa amblas, seperti yang terjadi di Kampung Serempah.

    Kesepakatan masyarakat tersebut dilontarkan dihadapan pimpinan daerah yang melihat kondisi terakhir warga pada Selasa 23 Juli 2013. Hadir dalam kunjungan itu diantaranya Bupati Aceh Tengah, Ir. Nasaruddin, MM, Dandim 0106 Aceh Tengah, Letkol Inf. Lalu Habiburrahim, Kapolres Aceh Tengah, AKBP Artanto, Sik, Kajari Takengon, Roch Adi Wibowo, SH, MH, dan Ketua MPU Aceh Tengah, Drs. Tgk. Ali Djadun.

    “Melihat dampak yang ditimbulkan akibat gempa, masyarakat setuju direlokasi,” ujar Kepala Kampung Bah, Selamatsyah
    Bupati beserta unsur pimpinan daerah lainnya kemudian turut melihat lokasi yang disepakati warga Kampung Bah untuk tempat tinggal ke depan, yaitu tanah seluas 5 hektar yang terletak di Dusun Serempingen, masih di wilayah kampung yang sama.

    Sedangkan untuk Kampung Serempah yang juga menjadi target relokasi, warga setempat juga ikut menunjukkan tempat yang cocok untuk mereka tinggali kedepan, dan tempatnya berdekatan dengan lokasi warga bah yang baru

    Sebagian besar warga Bah dan serempah selama ini tinggal di pengungsian yang berlokasi di Kampung Kute Gelime dan Kampung Sp Rejewali.

    “Jika tempat relokasi sudah disepakati, warga yang selama ini tinggal di pengungsian akan dipindahkan terus kemari,” kata Nasaruddin

    Kampung Bah saat ini berpenduduk 146 Kepala Keluarga, sebanyak 127 Kepala keluarga dalam pengungsian, sedangkan Kampung Serempah berjumlah 76 Kepala Kaluarga, seluruhnya mengungsi. | AT | I | Acehkita | Foto: Isbahannur |

    Para Relawan Galau [2 Selesai]



    acehtraffic.com- Setelah beristirahat setengah hari, melepas lelah, sang relawan kembali mengumpulkan bantuan untuk diangkut ke dataran Tinggi Gayo, kali ini sejumlah bantuan sudah di plotkan ke beberapa desa untuk didistribusikan. Sebelum berangkat sejumlah diskusi muncul, dari persoalan relawan itu sendiri sampai bagaimana cara distribusi bantuan kesana, hingga persoalan yang diderita para pengungsi.

    Setelah menikmati kopi seteguk dan rokok sebatang,  kawanan relawan ini memutuskan untuk bergerak, karena targetnya pagi sudah sampai disana. Sepanjang jalan diskusi mengarah ke diskusi galau terjadi, dari persolan pemerintahan, korban gempa hingga agama.

    Satu sama lain memiliki pikiran yang berbeda dalam topic yang sama, perdebatan tak terelakkan, pasalnya ada sejumlah bahasan yang terkadang justru tidak mengarah ke objek atau justru ngaur dan seoalah ingin menunjukkan sebuah nilai kebenaran dari apa yang disampaikan. Diskusi itu memecahkan kehiningan dan seramnya dataran tinggi Gayo itu.

    Diskusi belum berhenti dalam perjalanan itu, walau tanjakan dan seramnya jurang jelas terlihat disisi jalan Bireuen -Takengon itu. Namun diskusi masih terus terjadi.  Tepat saur mobil yang membawa relawan itu mendarat di simpang Balek kecamatan Weh Pesam Bener Meriah.

    Benseh seperti diplomat, bawaanya serius. Sesekali dia pegang Hp tua entah melaporkan perkembangan entah juga mengutak ngatik kypad Hp untuk menghibur dirio dalam masa menunggu pagi yang dingin itu. Sebagian yang lain memilih tidur di mobil dan mengecas hp serta peralatan lain yang kurang battery.

    Setelah sekian lama disana, cahaya merah terlihat dari balik perbukitan, para penghuni toko mulai membuka tokonya. Mereka menyapu dan mengatur barang untuk memulai jualan di hari itu. Begitu juga dengan empat relawan itu kembali melanjutkkan perjalanan menuju lokasi pengungsi.

    Sekitar 30 menit perjalanan sampai didesa yang dituju. Barang bantuan di paket dan kemusdian didistribusikan ke sejumlah posko pengungsi. Berbagai pemandangan terlihat didesa –desa yang dilumat gempa 2 Juli 2013 lalu itu.

    Umumnya rumah mereka runtuh, ada yang sisinya terangkat, dan ada juga yang bagian dari letak rumah mereka lonsor. Sejumlah tenda darurat terpasang di depan rumah rumah warga yang sudah hilang bentuknya itu.

    Untuk mengusir panas dari tenda terpal plastic alakadar itu, banyak wearga yang melapisi dengan dauj pisang untuk menghindari panas di kala hari tiba. Dan menghindari tetesan embun dikala malam. ,” Jika siang panas sekali tenda terpal plastic, makanya banyak yang lapisi dengan daun pisang ,” Ujar seorang warga pengungsi.

    Tidak cuma itu karena tidak tahannya para pengungsi didalam tenda terpal, banyak para pengungsi yang memilih untuk membangun gubuk dengan sisa kayu dan seng reruntuhan rumahnya.  Hal tersebut tidak lain untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dari serangan berbagai penyakit.

    Karena bukan hal mudah tidur dibawah tenda “alakdar di dataran tinggi Gayo” selain cuaca dingin juga belakangan ini angin kencang juga sering datang dikala malam tiba. Sehingga mau tidak mau masyarakat harus memikirkan keselamatan dan nasibnya, karena tidak mungkin mereka bertahan dalam tenda terpal super darurat itu hingga datang proses rekontruksi dari pemerintah. Sementara itu pun belum jelas tanggal dan bulan berapa.

    Hampir sejumlah tempat para pengungsi memiliki kondisi yang sama, informasi tentang relokasi terhadap desa-desa yang rawan lonsor juga berhembus diantara para pengungsi, namun belum jelas juga kemana dan dimana mereka akan ditempatkan kemudian. Setelah berkeliling dan mendengarkan berbagai persoalan itu akhirnya relawan kembali.

    Dalam perjalanan masuk lagi sejumlah agenda lain,
    hari sudah menjelang sore, sementara  waktu sangat sempit. Agenda -agenda tersebut ada yang terlihat penting, namun ada juga yang memang dapat dikerjakan untuk esok hari, namun terkadang kegalauan membuat itu mejampu lawok atau bercampur aduk didalamnya. 

    Antara tujuan dan selingan serta kepentingan individual yang dipaksakan, karena tidak enak - harus dikerjakan, jadwal sering berubah-ubah, hari terus menanjak malam. Sang relawan menghadap dingin menusuk tulang dengan kondisi Galau  | TIM acehtraffic.com | 

    Baca juga :Para Relawan Galau [1]

    Para Relawan Galau [1]



    acehtraffic.com-Gempa gayo membuat semua orang berempati dan ingin melihat serta menolong. Sebut saja namanya Benseh  (36) dan tiga sahabatnya yang lain sebut saja bernama Mat Usuf,  Mae dan Maun. Dalam kelompok itu Benseh adalah yang tertua secara umur.
     
    Malam itu, mulut Benseh terlihat terbuka tutup, matanya melihat kesana kemari, sembari menjelaskan tentang apa yang dialami pengungsi Gempa. Benseh sangat berambisi untuk melihat dan untuk berbuat sesuatu, namun yang membuatnya sengkak biaya untuk menuju kesana hanya sedikit tersedia. Tentunya itu menjadi sumber kebingungan. 

    Namun tekat Benseh untuk mencapai lokasi bencana sudah bulat dengan modal cekak, ia mempresentasikan kondisi pengungsi yang sedang cekak di hajar gempa, Benseh terlupakan cekaknya yang sudah menuju sesak jika memikirkan bagaiamana ia mewujudkan ke tanah Gayo. 

    Setelah diskusi panjang, akhirnya Jumat 19 Juli 2013 sebuah mobil butut bergerak pelan menuju dataran tinggi Gayo, Mat Usuf, Serta Mae dan Maun ikut didalamnya. Jalanan sedang dalam perbaikan dikawasan Cot Ijo Bireuen dilumat pelan, beberapa tikungan di kawasan Juli Bireuen terlihat sudah agak sepi karena aktivitas warga sudah terhenti akibat malam sudah larut. 

    Lalu lintas mobil yang turun dan naik ke dataran tinggi Gayo terlihat dijalan, ada  truk pengangkut sembako, banyak mobil pengangkut kelapa untuk dijajakan di pasar Takengon esok. . 

    Mulai dari kilo meter 17 semilir angin membuat tubuh mulai terasa dingin, tanjakan kecil terlewatkan,kedepannya sejumlah perbukitan segera berhadapan, para sopir harus hati-hati bila berpapasan dengan truk besar baik yang sedang mendaki atau sedang turun. Karena sejumlah tempat harus menurunkan kecepatan laju kenderaaan, bukan tidak mungkin didaerah tersebut lonsor dan tanahnya sudah retak. 

    Jelang pagi mobil yang membawa 4 para penolong itu sampai di sekitar lokasi. Karena masih malam, mereka memilih menghabiskan waktu di kawasan Lampahan, baru paginya dengan tumpukan bantuan menyisir lokasi para pengungsi. 

    Benseh telah membina koneksi dengan beberapa pihak untuk suatu tindakan menolong para pengungsi gempa yang sedang membutuhkan pertolongan. Beberapa laporan kecil dilaporkan dengan harapan sang jaringan segera mendapat sang Funder yang dapat mendukung kegiatan beerdasarkan  assessment tersebut. 

    Matahari menyingsing dari balik perbukitan, pertanda pagi sudah tiba. Empat sekawan melanjutkan perjalanan ke lokasi, mobil butut yang membawa mereka sudah mengeluarkan asap putih lewat knalpot, pertanda mesin sudah dinyalakan. Pemanasan sedang terjadi dalamnya. 

    Setelah semua naik, mereka pun berangkat, tak seberapa jauh mereka memutar ke salah satu kecamatan yang terkena ekses gempa. Disana terlihat pemukiman penduduk terletak di punggung bukit yang disisi kiri dan kanannya di penuhi kebun kopi dan sesekali terlihat pohon Alfokat. 

    Satu tanjakan tinggi dan lonsoran didepan membuat perjalanan empat sang penolong itu sedikit ngeri, apalagi ada sebuah truk sedang turun dari arah berlawanan. Benseh dibalik kemudi kelihatan kelabakan mengendalikan setior dijalan sempit itu. Krok..krokkk mobil terperosok sedikit ke paret jalan. Truk terlewatkan. Benseh dengan tenang melumat satu tanjakan lagi yang juga lumayam menantang. 

    Mulaiah terlihat rumah rumah telah hancur, sejumlah tenda berjejer, sekilas terlihat ini seperti pemukiman  penduduk belum jadi, didalam permainan rumah-rumahan anak-anak. Warga terlihat memandangi reruntuhan itu, dan ada juga yang sedang mengumpulkan kayu sisa, dan mengambil barang dibalik reruntuhan untuk kumpulkan dengan rapi. 

    Setelah sekitar 30 menit perjalanan sampailah di tempat yang di tuju, Benseh berdiskusi dengan empat sahabat yang lain, tentang kemana bantuan tersebut didistribusikan. Dengan pertanyaan dan jawabanntya sendiri akhirnya Benseh memutuskan untuk memberikan bantuan tersebut ke salah satu posko desa. 

    Benseh dan kawan-kawan bercerita di posko itu, tidak berlama-lama disana, mereka pun pamit  kembali. Tentunya Benseh dan empat kawannya mendapatkan sedikit informasi dari berbagai keterangan warga dan para kepala desa itu. 

    Dan itu menjadi catatan penting bagi Benseh, bukan tidak mungkin dari informasi itulah, dapat direncanakan pertolongan, bila,kemudian rencana tersebut disambut oleh sejumlah penolong gempa yang memiliki dana yang cukup. 

    Baru sebentar disana sebuah informasi lain masuk ke Benseh, pikiran Benseh sedikit galau, apa yang baik ? ini atau itu. Namun setelah dianalisa, keputusan itu harus dikerjakan. Dan keyakinan itu juga didukung dengan masih perlunya sejumlah bantuan guna menolong para pengungsi disana.

    Dalam posisi itu seakan Benseh bertenaga baja, ia segera merespon informasi tersebut, dengan kotak-katik perjalanan, seakan bagani dan bagatu akan secepat kilat terjadi.

    Kemudian dengan mobil butut mereka berlayar dalam kegelapan malam untuk tujuan 200 kilo meter. Benseh, Mat Usuf, serta Mae dan Maun sudah sangat lelah, namun tetap dipaksakan, akhirnya jelang pagi mobil itu mendarat di kota tujuan.Mata Benseh terlihat ngantuk, begitu juga dengan Mat Usuf, Maun dan Maee juga sama. 

    Terserah pertimbangan atau alasan serta ada analisa lain, memang kepulangan itu– Benseh sang relawan, - terlihat sangat Galau | TIM acehtraffic.com |

    Gempa Gayo 13.862 Rumah Rusak: Bantuan SBY & Sinyal DPRA Berhembus

    Takengon | acehtraffic.com - Gempa yang melanda Kabupaten Aceh Tengah dan sekitarnya pada 2 juli 2013 lalu telah merusak 13.862 rumah, berikut pula sejumlah instansi pemerintah, sarana Ibadah, sarana pendidikan, sarana kesehatan hingga insfrasruktur jalan. Sebanyak 5.516 unit rumah rusak berat, 2.750 rusak sedang, dan 5.596 rusak ringan. 

    Kunjungan Presiden SBY, 9 Juli 2013 lalu, telah memberi angin surga adanya kepastian bantuan dari pemerintah dengan besaran Rp 40 juta untuk rumah rusak berat, Rp 20 juta rusak sedang dan Rp 10 juta rupiah untuk yang rusak ringan. 

    Namun demikian, walaupun warga sadar bantuan tersebut bukanlah biaya untuk mengganti rumah, namun dana bantuan yang akan diberikan dinilai masih sangat minimal bila dibandingkan dengan kondisi bahan baku yang relatif mahal dan jarak tempuh menuju lokasi bencana. 

    Pencairan dana direncakan setelah terbentuknya kelompok masyarakat dan didampingi fasilitator. Sinyal untuk membuka ruang adanya dana pendamping bagi rumah warga yang mengalami kerusakan diberikan oleh lembaga legislatif Aceh, DPRA. 

    “InsyaALLAH nanti coba kita bicarakan dengan pihak eksekutif,” kata Ketua DPRA, Hasbi Abdullah, ketika bertemu dengan Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin, di Pendopo setempat, Senin 18 Juli 2013. 

    Begitu pula anggota DPRA lainnya yang turut serta, Abdullah Shaleh, mencoba mengali-ngalikan jumlah uang yang dibutuhkan sebagai pendamping. “Nanti kita upayakan paling tidak ada dana pendamping disesuaikan dengan tingkat kerusakan rumah warga,” Katanya. 

    Adanya dana pendamping, menurut Bupati Nasaruddin, sangat membantu meringankan beban warga yang mengalami kerusakan rumah. “Saya pastikan pemkab Aceh Tengah tidak akan mampu, karena itu selain melalui pemerintah pusat, diharapkan juga ada sharing dari Pemerintah Aceh,” Tutup Nasaruddin. 

    Sementara "angin syurga" dijanjikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu. Dimungkinkan akan segera direalisasikan akhir tahun 2013. 

    Realisasi bantuan tersebut diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Samsul Ma’arif, Kamis 18 Juli 2013 pada saat memberi penjelasan terkait penanganan bencana gempa gayo. 

    “Pihak kita sudah bergerak cepat untuk menangani proses verifikasi hingga rehab rekon nantinya,” kata Samsul. BNPB juga telah melakukan pelatihan bagi para verifikator untuk menilai kelayakan besaran bantuan yang akan diberikan kepada korban bencana gempa. 

    Sebelumnya, Presiden SBY telah menetapkan bantuan pembangunan rumah yang akan disalurkan dengan besaran  Rp 40 juta untuk rusak berat, Rp 20 juta untuk rusak sedang dan Rp 10 juta untuk rusak ringan. “Mulai tanggal 23 Juli, tim yang telah dilatih akan turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi,” pungkas  Kepala BNPB. | AT | I | LG | Foto: Isbahannur |

    Gayo Retak, Membuat Cemas Warga

    Gempa Gayo |  acehtraffic.com- Satu keluarga pengungsi gempa Gayo desa Weh Nongkal kecamatan Kute Panang Aceh Tengah berjalan di jalan yang penuh keretakan akibat gempa 6,2 SR pada 2 Juli 2013 lalu. Geografis daerah berada di pergunungan membuat hal tersebut menjadi kecemasan baru bagi warga. Senin 22 Juli 2013
    Pasalnya sisa retak yang masih terlihat, saat terjadi tanah terbuka seperti ikan yang mendarat sambilan menadahkan mulut terbuka yang lebar seakan dia sedang meminta makanan pertanda ia sedang lapar. 

    Banyak warga hampir terjebak ke ruang tanah yang terbuka meng-ngangga saat gempa terjadi. namun warga mengelak ditengah goyongan bumi sedang mengamuk.

    Peluang lonsor bakal terjadi dimana-mana, bahkan perumahan di lereng bukit dan di bahu bukit serta di puncak bukin mengalami resiko yang sama. Pasalnya sejumlah tempat terlihat keretakan dan pergeseran tanah terjadi.

    Gempa di kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah telah menyebabkan 40 orang meninggal dunia, salah satunya, anak yang terbuka kepala akibat terbentur bangunan runtuh. 6 orang di laporkan hilang akibat tertimbun lonsor.
    Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan jumlah pengungsi korban gempa Aceh mencapai 16 ribu jiwa di Bener Meriah dan Aceh Tengah. 

    "Di Bener Meriah ada 12.500 jiwa dan di Aceh Tengah ada 3.500 jiwa," kata Kepala Pusat dan Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, DR Sutopo Purwo Nugroho | AT | RD | Foto: Isbahannur |

    Tawar Miko (Desa Damai) Yang Terusik Gempa




    Takengon | acehtraffic.com - Pengungsi gempa dataran tinggi gayo masih harus melewati hari-hari yang tidak seimbang, kegundahan dan kesedihan menyelimuti mereka. Mereka seakan terpecah konsentrasi, dan seakan kehilangan titik untuk bergerak meniti kehidupan, saat melihat rumah mereka sudah pecah berkeping. Mungkin itu sekilas yang dirasakan pengungsi Gempa Aceh tengah yang berada di Kampung Tawar Miko kecamatan Kuta Panang Kabaupaten Aceh Tengah
    Hendak menghibur diri kekebun terasa takut, ketika dipaksakan juga hasil kebunpun belum bisa di panen.  ,”Ya ngak tahu sekarang, perasaan takut juga ada, belum panen juga iya,pokoknya bingung,’ Ujar Seorang warga Tawar Miko Kecamatan Kuta Panang kepada reporter acehtraffic.com

    Desa Tawar Miko berada diperbukitan, jika mau kesana, dari Jalan Bireuen Takengon masuk lewat simpang Sukaramai, melintasi jalan aspal, menemukan desa Suka Jadi, kemudian Syu Rayadi, berbukit dan dikelilingi lereng gunung terjal yang dipenuhi pohon kopi. Tentu sangat mengerikan, dikala menemukan sisi jalan yang sudah lonsor dan terlihat retak. Kemudian melintasi, Pulau Aceh dan Weh Nongkol.

    Setelah melewati jalan berliku dan sedikit seram bagi orang yang belum terbiasa, kita menjumpai jalan masuk ke jalan menuju Panten Jerik. Desa ini luluh lantak akibat gempa, tanah nya terbuka, rumah semua roboh ke tanah. Berbelok kekanan, kita menjumpai desa Tawardi, Rata wali dan sampailah di desa Tawar Miko.

    Saat gempa menguncang Bener Meriah 6,2 SR,  2 Juli 2013 lalu, desa ini termasuk salah satu desa yang tidak langsung dapat di akses. Dua hari desa dikawasan itu terkurung, karena jalan akses kesana lonsor hingga baru hari ketiga relawan kemanusiaan dapat menjenguk kondisi mereka. 

    Desa ini di huni 91 Kepala Keluarga, dengan 350 jiwa. Gempa 6,2 Skala rickter membuat 85 unit rumah didesa ini rusak berat, namun masih beruntung, tidak warga desa yang menjadi korban jiwa.

    Setelah gempa warga tidur dibawah tenda pengungsian, kebun kopi yang mereka miliki dibiarkan, bukannya tidak mau dipedulikan, tetapi ada perasaan yang tidak menentu ketika niat untuk kekebun muncul di benak mereka.

    Kondisi itu membuat mereka banyak menghabiskan waktu di tenda dan posko pengungsian, kadang terlibat memaket bantuan yang datang untuk didistribusi ke masyarakat desa, dan ada duduk dengan tatapan kosong menonton dan menikmati lalu lalang mobil para relawan melintas.
    Kini pemerintah telah merubah status penanganan pengungsi Gempa dari tanggap darurat ke masa pemulihan. ,”Ini kan dah berubah, udah ke tahap pemulihan, sekarang dipasok bahan makanan” Ujar Kepala desa Tawar Miko Mulyadi (45) 

    Menghadapi ramdhan di tenda pengunsi memang berat bagi mereka, mesjid yang besar tidak dapat digunakan untuk beribadah, akhirnya mereka membangun tenda besar beratap seng, dan dilapisi dengan dinding terpal.

    Disanalah mereka menjalankan ibadah tarawih. Dingin menusuk tulang adalah alam dasar dataran tinggi Gayo, namun keberadaan mereka para pengungsi didalam tenda di malam hari justru akan menambah mereka semakin dingin dan menggigil, belum diketahui sampai kapan, semoga pengungsi  desa Tawar Miko cepat cepat kembali ke titahnya, sesuai arti dari nama desa dalam bahasa Gayo, -Semoga cepat damai dan berubah lebih baik kembali ? | AT | Qistina A | acehtraffic.com |

    Posko induk Penanganan Gempa Gayo Dipindah Ke Aceh Tengah

    Takengon | acehtraffic.com- Penanganan korban gempa gayo yang sebelumnya berposko induk di kabupaten Bener Meriah kini dipindahkan ke  ibu kota kabupaten Aceh Tengah Takengon, Rabu 17 Juli 2013. Selain itu status penanganan korban gempa juga berubah, dari tanggap darurat ke pemulihan kondisi.

    Sebagaimana di laporkan situs berita lintas gayo.com setelah Gubernur mengumunkan pengalihan status penanganan Gempa dari tanggap darurat ke pemulihan, Gubernur melakukan konfrensi Pers, dan dalam konfrensi pers tersebut sejumlah pertanyaan diajukan ke Gubernur.

     . “Dana tanggap darurat senilai Rp 64 milyar lebih yang bersumber dari APBA, mengapa sampai belum dicairkan. Apakah dana itu siap pakai, berapa persen sudah disalurkan,”  tanya Bahtiar Gayo,  wartawan Waspada, sebagaimana dilansir Lintasgayo.com. Terkait pertanyaan ini gubernur tidak menjawab detail.

    Selain menanyakan persoalan dana, wartawan senior ini juga mempersoalkan tehnis design tugas yang diterapkan gubernur dalam mengambil alih pengendalian tanggap darurat. “Mengapa para kepala dinas SKPA, tidak pernah ikut rapat saat diselenggarakan rakor, di mana mereka berkantor,” tanya Bahtiar. 

    Mendapat pertanyaan serius itu, gubernur tersentak. Persoalan dana tidak dijawab gubernur di hadapan peserta rakor itu.

    Namun untuk persoalan SKPA, Zaini Abdullah menyebutkan, walau tidak hadir kepala SKPA, namun sudah ada orang kepercayaan dalam menangani tugas di Aceh Tengah. “Memang benar kepala SKPA tidak hadir di Aceh Tengah, namun seluruh tugas yang dipercayakan kepadanya, semua dapat dilaksanakan dengan baik, “ jelas Zaini Abdullah. Selain mempersoalkan dana dan SKPA. 

    Bahtiar Gayo juga mempertanyakan sikap gubernur dalam memperjuangkan anggaran untuk perbaikan infrastuktur akibat gempa itu. Tahun anggaran 2013 berapa direncanakan dan tahun 2014 berapa, karena mengharapkan kekuatan Pemda Aceh Tengah tidak mungkin persoalan yang besar itu mampu diselesaikan. Namun gubernur tidak memberikan jawaban yang pasti.

    Demikian juga ketika dipersoalkan tentang perbaikan ekonomi rakyat yang  hancur akibat gempa, orang nomor satu di Aceh ini menjawabnya dengan klasik. Demikian dengan pertanyaan Jurnalisa, wartawan harian Orbit yang meminta agar gubernur menambah anggaran untuk perbaikan rumah.

    Dimana presiden SBY sudah menjanjikan akan menyediakan dana Rp 40 juta untuk rumah yang rusak berat Rp 20 juta untuk rusak sedang dan Rp 10 juta untuk rusak ringan. Gubernur tetap tidak memberikan jawaban pasti. Gubernur hanya menjelaskan penggunaan anggaran senilai Rp 64 milyar yang dipergunakan untuk tanggap darurat dan kini dialihkan ke masa peralihan pemulihan. 

    Dana tanggap darurat ke masa peralihan pemulihan, Rp 64,9 milyar lebih itu, dipergunakan untuk 6 item  kegiatan. Untuk pangan dan logistik Rp 21 milyar. Fisik Rp 25 milyar, kesehatan Rp 1,8 milyar, Bina Marga Rp 721 juta, pendidikan Rp 13,8 milyar dan Badan Penanggulangan Bencana Aceh Rp 1,96 milyar. 

    Catatan Lintas Gayo, Aceh Tengah sudah mengeluarkan dana tanggap darurat Rp 300 juta ditambah dengan dana dari BNPB Rp 800, sementara dari APBA yang dikelola propinsi Aceh senilai Rp 64 milyar lebih, belum diketahui penggunaannya. |AT| RD | Sumber Lintasgayo.com|


    Dana 64 Milyar Untuk korban Gempa Gayo Ditanyakan, Gubernur Aceh Tersentak

    Takengon | acehtraffic.com –Dana tanggap darurat seinilar 64 milyar lebih untuk korban gempa Gayo yang bersumber dari APBA mendapat sorotan dari wartawan di negeri Antara tersebut. 

    Pertanyaan itu terungkap setelah Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengumumkan pemindahan status tanggap darurat ke peralihan pemulihan kondisi korban gempa di di Oproom Sekdakab Aceh Tengah, Rabu 17 Juli 2013. 

    Sebagaimana di laporkan situs berita lintas gayo.com setelah Gubernur mengumunkan pengalihan status penanganan Gempa dari tanggap darurat ke pemulihan, Gubernur melakukan konfrensi Pers, dan dalam konfrensi pers tersebut sejumlah pertanyaan diajukan kepada Gubernur.

    ,“Dana tanggap darurat senilai Rp 64 milyar lebih yang bersumber dari APBA, mengapa sampai belum dicairkan. Apakah dana itu siap pakai, berapa persen sudah disalurkan,”  tanya Bahtiar Gayo,  wartawan Waspada, sebagaimana dilansir Lintasgayo.com. Terkait pertanyaan ini gubernur tidak menjawab detail. 

    Selain menanyakan persoalan dana, wartawan senior ini juga mempersoalkan tehnis design tugas yang diterapkan gubernur dalam mengambil alih pengendalian tanggap darurat. “Mengapa para kepala dinas SKPA, tidak pernah ikut rapat saat diselenggarakan rakor, di mana mereka berkantor,” tanya Bahtiar. Mendapat pertanyaan serius itu, gubernur tersentak. Persoalan dana tidak dijawab gubernur di hadapan peserta rakor itu. 

    Namun untuk persoalan SKPA, Zaini Abdullah menyebutkan, walau tidak hadir kepala SKPA, namun sudah ada orang kepercayaan dalam menangani tugas di Aceh Tengah. “Memang benar kepala SKPA tidak hadir di Aceh Tengah, namun seluruh tugas yang dipercayakan kepadanya, semua dapat dilaksanakan dengan baik, “ jelas Zaini Abdullah.

     Selain mempersoalkan dana dan SKPA, Bahtiar Gayo juga mempertanyakan sikap gubernur dalam memperjuangkan anggaran untuk perbaikan infrastuktur akibat gempa itu. Tahun anggaran 2013 berapa direncanakan dan tahun 2014 berapa, karena mengharapkan kekuatan Pemda Aceh Tengah tidak mungkin persoalan yang besar itu mampu diselesaikan. Namun gubernur tidak memberikan jawaban yang pasti. 

    Demikian juga ketika dipersoalkan tentang perbaikan ekonomi rakyat yang  hancur akibat gempa, orang nomor satu di Aceh ini menjawabnya dengan klasik. Demikian dengan pertanyaan Jurnalisa, wartawan harian Orbit yang meminta agar gubernur menambah anggaran untuk perbaikan rumah. 

    Dimana presiden SBY sudah menjanjikan akan menyediakan dana Rp 40 juta untuk rumah yang rusak berat Rp 20 juta untuk rusak sedang dan Rp 10 juta untuk rusak ringan. 

    Gubernur tetap tidak memberikan jawaban pasti. Gubernur hanya menjelaskan penggunaan anggaran senilai Rp 64 milyar yang dipergunakan untuk tanggap darurat dan kini dialihkan ke masa peralihan pemulihan. 

    Dana tanggap darurat ke masa peralihan pemulihan,  Rp 64,9 milyar lebih itu, dipergunakan untuk 6 item  kegiatan. Untuk pangan dan logistik Rp 21 milyar. Fisik Rp 25 milyar, kesehatan Rp 1,8 milyar, Bina Marga Rp 721 juta, pendidikan Rp 13,8 milyar dan Badan Penanggulangan Bencana Aceh Rp 1,96 milyar. 

    Catatan Lintas Gayo, Aceh Tengah sudah mengeluarkan dana tanggap darurat Rp 300 juta ditambah dengan dana dari BNPB Rp 800, sementara dari APBA yang dikelola propinsi Aceh senilai Rp 64 milyar lebih, belum diketahui penggunaannya. |AT| RD | Sumber Lintasgayo.com|

    Gubernur Perpanjang Masa Darurat Gempa Gayo

    Aceh Tengah--Masa darurat gempa Aceh diperpanjang sampai dengan tanggal 10 Agustus 2013. Hal itu ditetapkan oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah dalam rapat koordinasi bencana gempa di Kantor Bupati Aceh Tengah, Rabu 17 Juli 2013.

    Sebelumnya masa tanggap darurat ditetapkan dua minggu sejak gempa 6,2 SR yang terjadi 2 Juli lalu. Tanggap darurat yang berakhir hari ini, ditingkatkan statusnya menjadi masa transisi darurat. "Kami tetapkan statusnya masa transisi darurat ke pemulihan," ujar Zaini.

    Menurutnya, ketetapan itu diambil setelah mendengar pendapat para pihak seperti Bupati Aceh Tengah dan Bupati Bener Meriah, Badan Penanggulangan Bencana dan sejumlah elemen lainnya.

    Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin mengatakan perpanjangan status darurat mengingat beberapa hal yang masih dibutuhkan pengungsi. "Tenda masih belum terdistribusi semua, warga juga belum dapat bekerja," ujarnya.

    Saat ini Gubernur Aceh, Zaini Abdullah berkantor di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, untuk memimpin misi pemulihan gayo. Dia akan berkantor di sana sampai Agustus mendatang.

    Gempa Aceh pada 2 Juli lalu, telah mengakibatkan sebanyak 42 orang korban meninggal, dan 6 orang masih dinyatakan hilang.| AT | M | Tempo |

    Karang Taruna Pun Ikut Galang Bantuan Untuk Korban Gempa

    Aceh Timur | acehtraffic.com- Tidak cuma lembaga besar, tapi karang taruna satu ini juga ikut menggalang bantuan untuk korban gempa  Berbagai  Bantuan Terus Mengalir Untuk Para Korban Gempa Yang Melanda Kabupaten Bener Meriah Dan Aceh Tengah. Ini sebagai bentuk kepedulian sesama.

    ,"Kegiatan Ini Merupakan Bentuk Kepedulian Mereka Terhadap Saudara Kita Yang Sedang Dikenakan Musibah Gempa Di Aceh Tengah Dan Benermeriah tersebut," Kata Said Fadil Ketua Karang Taruna Labuhan Jaya, Kecamatan Sungai Raya, Aceh Timur

    Penggalangan dilakukan di Jalan Raya, rumah ke rumah, Kios-Kios Yang Ada Di Kecamatan Sungai Raya.

    Selain Itu, Pihaknya Juga Menerima Segala Bentuk Bantuan Seperti Pakain Layak Pakai, Air Mineral, Beras, Ikan Asin Dan Barang-Barang Lainnya Yang Bisa Di Terima Untuk Para Korban Gempa Tersebut. Dia menambahkan.  bantuan ini akan diantar langsung ke bener meriah dan aceh tengah sambil memberikan hiburan terhadap anak-anak dan para korban gempa tersebut.

    “ kita selama delapan hari melakukan kegiatan penggalangan dana untuk korban gempa tersebut,  telah mendapatkan bantuan dari berbagai pihak dan masyarakat di kecamatan sungai raya sebanyak 6 juta dalam kurung waktu delapan hari. Tak hanya itu bantuan berupa beras, mie instan dan air mineral juga telah terkumpul untuk di serahkan langsung kepada korban di beberapa titik di aceh tengah dan bener meriah. Ujarnya. | AT | RD| SD|

    KNPI Banda Aceh Salurkan Bahan Makanan dan Pakaian Untuk Korban Gempa

    Banda Aceh | acehtraffic.com- Berbagai organisasi ikut prihatin atas musibah gempa yang menimpa masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah.  KNPI Kota Banda Aceh pada  Selasa 16 Juli 2013  menyerahkan bantuan bahan makanan dan pakaian untuk korban gempa kedua kabupaten itu.

    Bantuan dalam bentuk Baju layak pakai, mie instan, minyak makan, gula, sarden, beras, makanan bayi, susu, Roti  tersebut diserahkan Ketua KNPI Kota Banda Aceh Hasnanda Putra melalui posko Gampong Balek Kec. Kute Panang Aceh Tengah  diterima oleh Keuchik setempat, Sukidi dan di Posko Kampung Kulem Karakanis, Bener Meriah diserahkan oleh Ketua Gema MA, Wirzaini Usman dan diterima Keuchik Ali Umar.

    Hasnanda Putra menyebutkan, bantuan tersebut berasal dari KNPI Kota Banda Aceh, masyarakat dan beberapa OKP, yaitu Gema MA, Gepak, Plasma, PSP3, Aceh Setia dan Alliez Advertising.
    "Ini adalah bentuk kepedulian dan solidaritas rekan-rekan pemuda untuk membantu para korban, jika dilihat dari jumlahnya memang tidak seberapa," kata Hasnanda didampingi Ketua Gema MA, Wirzaini Usman 

    Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua KNPI Bener Meriah, Alvin, Ketua Gepak Aceh Deni Setiawan dan beberapa pengurus KNPI Kota Banda Aceh.| AT | RD | RI|
     
    Hosting Gratis
    Support : Creating Website | Acehtraffic Template | Baharsj
    Copyright © 2013. Aceh Zone - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Baharsj
    Proudly powered by Blogger